Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

LOMBA KARYA TULIS PENYULUH

Pengumuman

banner1
banner2
katam
Banner5
Banner3
MKRPL
PHSL IRRI

Publikasi

Kalender Kegiatan

<<  Jul 2014  >>
 Mon  Tue  Wed  Thu  Fri  Sat  Sun 
   1  2  3  4  5  6
  7  8  910111213
14151617181920
21222324252627
28293031   

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari Ini395
mod_vvisit_counterMinggu Ini1389
mod_vvisit_counterBulan Ini17393
mod_vvisit_counterSemua54487

Berita

Berita lainnya...

Video



Get the Flash Player to see this player.

time2online Joomla Extensions: Simple Video Flash Player Module

Link Terkait

Polling

Bagaimana Pendapat Anda Tantang Website Ini?
 

Info Teknologi

Budidaya Brokoli

article thumbnail



Brokoli (Brassica oleracea cv Broccoli ) secara selintas mirip dengan kubis bunga. Warna kepala bunga ada yang hijau, ungu, putih, dan hijau muda, tergantung varietasn [ ... ]


Budidaya Kelinci

article thumbnail



Ternak kelinci mempunyai keunggulan biologis dibandingkan ternak lainnya karena dapat dikawinkan setiap saat setelah dewasa. Daging kelinci enak dimakan dengan kandung [ ... ]


Pestisida Nabati

article thumbnail


Pestisida nabati adalah pestisida yang bahan aktifnya berasal dari tumbuhan atau bagian tumbuhan seperti akar, daun, batang atau buah. Bahan-bahan ini diolah menjadi be [ ... ]


Biokult dalam Pakan Penggemukan Domba

article thumbnail



Biokult merupakan sebutan untuk probiotik yang digunakan dalam pakan penggemukan domba dalam inovasi teknologi yang dikaji BPTP Jawa Tengah. Probiotik yang dimaksud di [ ... ]


Cara Pengendalian Tikus Sawah

article thumbnail




Tikus merupakan musuh petani sejak jaman dulu. Berbagai upaya dilakukan untuk mengatasi hama satu ini. Tikus sangat merugikan petani dan membuat petani beke [ ... ]


Ceriping Puyur

article thumbnail



Singkong atau ubi kayu dapat diolah menjadi berbagai macam olahan, salah satunya adalah ceriping/keripik. Ceriping ini dinamakan ceriping puyur, sangat mudah  pembua [ ... ]


Teknologi Lainnya ..


Laboratorium Klepu Layak Sebagai Percontohan KRPL PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Administrator   
Jumat, 20 Desember 2013 14:22

Perawatan tanaman selalau dilakukanPedagang datang untuk mengambil hasil panenKemandirian pangan yang dicirikan dengan tersedianya pangan yang bergizi dan aman untuk kesehatan dalam jumlah yang cukup sepanjang waktu merupakan tuntutan kebutuhan hidup sehingga pemerintah dan masyarakat harus terus bekerjasama dalam mewujudkan dan kemudian mempertahankannya. Oleh karenanya pemerintah mencanangkan program Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL). Manfaat KRPL ini di dalam rumah tangga semakin dirasakan dengan pentingnya memasyarakatkan pola hidup sehat dengan bertani di lahan pekarangan rumah sendiri dan memakan sayuran organik hasil dari kegiatan bertani tersebut. Upaya menciptakan KRPL terus berkembang, tidak lagi khusus untuk kelompok tani tetapi sudah menyebar di kalangan Ibu-ibu rumah tangga, baik yang tinggal di pedesaan maupun yang tinggal di perkotaan.

Sebagai salah satu instansi pendamping dalam pencapaian suksesnya program tersebut , Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Tengah melakukan inisiasi teknologi di lokasi-lokasi kegiatan yang berjumlah 35 kabupaten/kota dan diberi nama Model Kawasan Rumah Pangan Lestari (M-KRPL). Selain itu BPTP Jateng juga melaksanakan M-KRPL di lingkungan kantor sendiri, diantaranya di Laboratorium (Lab) Klepu. Diantara beberapa model penataan tanaman yang dilakukan di Lab. Klepu yang menarik untuk disosialisasikan adalah budidaya tanaman sayur di bedengan- bedengan dengan jenis tanaman : bayam, kangkung, caisin dan sawi sendok. Budidaya tanaman sayur ini murni menggunakan pupuk organic dan tidak pernah dilakukan penyemprotan hama maupun penyakit karena tanaman tumbuh subur dan sehat. Informasi dari para konumen utama sayur organik yang tidak lain adalah para pegawai BPTP Jateng, 100% menyatakan kalau olahan sayur organik jauh lebih enak meskipun dalam memasaknya tanpa tambahan bumbu penyedap. Selain itu sayuran organik yang dikemas dalam kantong plastik dan disimpan di kulkas awet kesegarannya hingga 1 minggu lebih. Keuntungan lain bagi konsumen sayur organik adalah manfaat yang positif bagi kesehatan tubuh bernilai sangat tinggi, sehingga mengkonsumsi sayur organik ini patut selalu dibiasakan. Penjualan hasil panen sayur Laboratorium Klepu tidak hanya di lingkungan pegawai pegawai BPTP jateng, namun juga didatangi pedagang sayur keliling yang membeli dengan system borongan/ditebas.

Dari sudut ekonomi , kegiatan penanaman sayur pada M-KRPL di Lab Klepu ini nilainya cukup lumayan dan layak ditiru untuk diaplikasikan di pekarangan rumah tangga. Pengelolaan tanaman sayur di M-KRPL Laboratorium Klepu dengan bedengan sebanyak 10 petak dan masing-masing berukuran (1x5 ) m atau total luasan 50 m2, bisa memberikan pemasukan setelah dikurangi biaya benih, sebesar Rp.160.000/panen. Tenaga yang dibutuhkan cukup menyisihkan waktu 2 jam/hari dan dikerjakan untuk mengolah lahan selama 1 mg dan pengaturan penanaman benih selama 1 minggu berikutnya, selanjutnya tanaman sayur dapat dipanen setelah berumur 25 - 30 hari. Model KRPL Laboratorium Klepu ini dalam satu tahun bisa dilakukan penanaman sayur sebanyak 7 kali sehingga diperoleh pemasukan sebanyak Rp. 1.120.000,- Hasil finansial memang tidak banyak, tetapi nilainya tak terhitungkan bagi kesehatan keluarga dan konsumen sayur organic yang kita hasilkan. (UN)

 
Inpari- 19 Layak Dikembangkan di Kradenan, Kabupaten Semarang PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Administrator   
Senin, 16 Desember 2013 00:00

Kepala Desa Kradenan saat presentasiBaru baru ini, BPTP Jawa Tengah melakukan evaluasi hasil kegiatan Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT) Kabupaten Semarang pada 13 Desember 2013. Padi Varietas Unggul Baru (VUB) Inpari 18, 19 dan 20 ditanam di Desa Kradenan, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Semarang. Pada pertemuan evaluasi tersebut Suwito selaku Kepada Desa menyampaikan hasil kegiatan ini, bahwa di antara ketiga Inpari yang diujikan pada MT-2 di Desa Kradenan, maka Inpari-19 adalah yang terbaik, produksinya mencapai 7 ton/ha, rasanya pulen seperti Memberamo. Produksi gabah Inpari yang lain jauh lebih rendah dan produksinya tidak berbeda antara Inpari-18 dengan Inpari-20 yakni 5,5 ton/ha, namun produksi ini masih lebih baik dibandingkan dengan varietas padi lokal IR-64 yang biasa ditanam yaitu hanya 4,3 kg/ha. Berdasarkan keunggulannya tersebut, Bapak Kades menyimpulkan bahwa Inpari-19 sesuai untuk dikembangkan di Kradenan. Oleh sebab itu beliau mencoba lagi tanam Inpari-19 pada MT-3 dan ternyata hasilnya tetap bagus. Selain Bapak Kades, Suparmo sebagai Koordinator SL wilayah Semarang berpesan kepada petani peserta pertemuan, bahwa kalau ingin maju petani tidak boleh fanatik dengan kebiasaan tanam satu varietas padi saja, misalnya harus IR- 64. Kebiasaan tanam padi satu varietas secara terus menerus dapat menyebabkan timbulnya hama atau penyakit tanaman. Di wilayah Semarang yaitu di Kecamatan Kaliwungu pernah mendapat serangan wereng coklat lebih dahulu yang asalnya dari Banyubiru. Apabila mengetahui hal itu segera melaporkan kepada PPL agar segera dilakukan penanggulangannya. Petani harus lebih rajin memelihara sawahnya apabila terjadi hal demikian. Bapak Kades juga menyatakan bahwa di Desa Kradenan, sistem jajar legowo belum terlaksana sebagaimana mestinya karena tenaga kerja yang belum terlatih dengan sistem tersebut. (U)

LAST_UPDATED2
 
Varietas Unggul Nasional Krisan di Jawa Tengah PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Administrator   
Kamis, 12 Desember 2013 09:44

Varietas Dewi RatihVarietas Puspita NusantaraVarietas PasopatiSejak 1998 sampai 2011 Badan Litbang Pertanian melalui Balai Penelitian Tanaman Hias telah melepas 43 varietas unggul nasional krisan. Varietas-varietas tersebut dapat berkembang di Jawa Tengah, khususnya di Bandungan dan sekitarnya. Di Bandungan sebagai daerah sentra produksi krisan di Jawa Tengah, petani pedagang dan pembeli dapat menerima varietas unggul nasional asalkan memiliki sifat-sifat sesuai kriteria kesukaan pengguna. Meskipun krisan dengan warna bunga kuning dan putih merupakan favorit, tetapi pengguna umumnya menyukai krisan dengan kriteria warna bunga tajam, ukuran dan bentuk bunga proporsional, tangkai bunga kokoh, bunga tidak cepat layu, tahan hama dan penyakit. Puspita Nusantara, Pasopati, dan Dewi Ratih adalah contoh varietas unggul nasional yang sangat populer di Bandungan.  Bahkan Puspita Nusantara merajai peredaran krisan dengan warna bunga kuning tipe spray (satu batang berisi beberapa tangkai bunga) di pasar induk tanaman hias Jetis, diikuti oleh Dewi Ratih dan Pasopati.  Menurut petani dan pedagang, Puspita Nusantara memiliki warna kuning tajam, warna bunga tabung kehijauan dan tidak cepat mekar, ukuran dan bentuk bunga proporsional, tangkai bunga kokoh, tidak cepat layu, tahan hama dan penyakit.  Varietas Pasopati memiliki warna merah tua tajam yang jarang dimiliki varietas lain dan Dewi Ratih sangat mudah  diperbanyak serta tahan penyakit karat.  Dari segi harga, pada bulan Oktober 2013 di pasar tanaman hias Jetis, Bandungan, Puspita Nusantara memiliki harga jual yang paling tinggi, yaitu Rp.12.000,00-Rp.13.000,00 per 10 tangkai, diikuti Pasopati Rp. 10.000,00 dan Dewi Ratih Rp. 8.000,00.

Meskipun Puspita Nusantara, Pasopati dan Dewi Ratih sangat disukai pengguna, tetapi luas tanam ke tiga varietas tersebut hanya mencapai 10% dari luas pertanaman krisan di Bandungan.  Faktor ketersediaan bibit, ketahanan terhadap hama dan penyakit, dan manajemen penanaman merupakan kendala yang menyebabkan luas tanamnya terbatas. Untuk lebih mempromosikan varietas unggul nasional krisan di Bandungan, telah dilakukan kegiatan Pengujian Varietas Unggul Nasional Krisan pada tahun 2009 dan 2012 di Bandungan kerjasama antara Balithi dengan BPTP Jawa Tengah.Pencapaian yang telah diraih oleh beberapa varietas unggul nasional krisan ini memberikan gambaran bahwa prospek varietas unggul nasional krisan dapat mengambil alih pemenuhan jenis-jenis krisan yang diperlukan pengguna, yang selama ini dipenuhi oleh varietas introduksi. (Yayuk A. Bety, R. Pangestuti, B. Prayudi)

LAST_UPDATED2
 
Swasembada Gula dan Pameran Hari Perkebunan Ke 56 PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Administrator   
Selasa, 10 Desember 2013 09:54

Stand BPTP Jawa Tengah pada Hari PerkebunanMesin Bud Chip yang ikut dipamerkanJawa Tengah menjadi tuan rumah penyelenggaraan Hari Perkebunan ke 56, dan puncaknya dilaksanakan pada 8-10 Desember 2013, di kebun Tlogo Plantation Resort, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang. Acara puncak ditandai dengan dibukanya pameran perkebunan, pada 8 Desember 2013, yang melengkapi rangkaian acara Hari Perkebunan ke 56. Tema Hari Perkebunan 2013 “Pembangunan Perkebunan Berkelanjutan dan Pencapaian Swasembada Gula untuk Mewujudkan Kesejahteraan Masyarakat“. Pembukaan acara ini oleh Gubernur Jawa Tengah yang diwakili oleh Asisten Kesra Setda Pemprov. Jawa Tengah, Ir. Djoko Sutrisno, M.Si. “Kegiatan ini sangat positif karena merupakan sarana untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat dan stakeholder tentang produk perkebunan utamanya produk unggulan yang ada di Jawa Tengah” demikian beliau mengawali sambutannya. Diingatkan pula kepada masyarakat perkebunan untuk memperkuat kelembagaan kelompok tani dan melibatkan masyarakat sekitar perkebunan dalam mengelola perkebunan, selain itu meningkatkan semangat untuk menumbuhkan usaha baru bidang perkebunan. Peserta pameran yang mencapai 100 stand, termasuk BPTP Jawa Tengah. Stand BPTP Jawa Tengah menampilkan tema yang sesuai dengan tema Hari Perkebunan tahun ini, yaitu swasembada gula dengan mendisplay tanaman tebu varietas unggul yaitu PSJT 941, PS 82, Bulu Lawang dan PSJK 922 dan mesin bud chip. Bud chips adalah teknologi percepatan pembibitan tebu dengan satu mata tunas yang diperoleh dengan menggunakan alat mesin bor. selain itu juga, media cetak diantaranya, leaflet, brosur, dan buku saku, poster juga media elektronik berupa pemutaran VCD. Selain itu ada juga produk olahan petani binaan BPTP Jateng berupa Nata de coco, VCO, minyak goreng kelapa serta aneka makanan, yang cukup menarik peminat pengunjung pameran.

LAST_UPDATED2
 
Kunjungan KWT Kabupaten Bero Kaltim di Lokasi M-KRPL Desa Puluhan PDF Cetak E-mail
Berita

KWT dari Kab. Bero menyempatkan berfoto bersamaSaat diskusi dengan pelaksana MKRPL desa PuluhanPelaksanaan M-KRPL di Desa Puluhan, Kecamatan Jatinom, Kabupaten Klaten dimulai pada April 2012. Salah satu bentuk keberhasilan MKRPL Desa Puluhan ditunjukkan dengan peningkatan jumlah kepala keluarga (KK) yang terlibat dalam program tersebut. Semula MKRPL di Desa Puluhan hanya melibatkan satu dukuh yaitu Dukuh Karangpuluhan yang terdiri dari 34 KK, kemudian pada awal tahun 2013 berkembang ke lima dukuh dengan melibatkan 345 KK. Pelaksana M-KRPL di Desa Puluhan ini merasa senang memiliki kegiatan menata pekarangan rumah karena ada dukungan dari Kepala Desa. Kepala Desa Puluhan, Bapak Sajadi, sangat mendukung program ini dan bisa menyemangati warganya. Keberhasilan program pemanfaatan pekarangan ini telah mengantarkan Kepala Desa Puluhan mendapatkan penghargaan tidak hanya di tingkat propinsi Jawa Tengah, namun juga di tingkat nasional pada akhir 2012 berupa Adikarya Pangan Nusantara dari Presiden RI. Prestasi Desa Puluhan telah tersebar beritanya sampai ke seberang pulau Jawa, tepatnya Kalimantan. KWT Kabupaten Bero, Propinsi Kalimantan Timur pada 5 Desember 2013, mengunjungi KRPL Puluhan diikuti oleh 6 orang ibu-ibu dari perwakilan KWT yang ada di Kabupaten bero didampingi oleh 3 personil Balai Ketahanan Pangan. Maksud kunjungan ini adalah untuk belajar dengan melihat contoh langsung di lokasi M-KRPL yang meraih sukses. Rombongan mendapatkan penjelasan dari Bapak Sajadi yang kemudian diteruskan dengan Tanya jawab. Tim pendamping M-KRPL BPTP Jateng yang dipimpin oleh DR. Agus Supriyo menjelaskan tentang penataan pekarangan dengan tanaman semusim seperti bayam, sawi, kangkung, cabe, tomat, terong, kol, atau tanaman obat-obatan, juga menjelaskan kunci sukses penataan pekarangan antara lain 1) mengusahakan komoditas tanaman yang memiliki nilai ekonomi tinggi, 2) harus ada kelembagaan pasar dan 3) harus ada KBD (kebun bibit desa) agar berkelanjutan. Lahan pekarangan di Jawa umumnya sempit sehingga pengelolaan tanaman banyak yang dilakukan di polybag, hal ini tentunya berbeda dengan di Kalimatan yang lahan pekarangannya luas sehingga pengelolaan tanaman sebaiknya dilakukan langsung dilahan yang tersedia. Acara terakhir adalah berkeliling ke kawasan rumah di Dukuh Karang Puluhan untuk melihat langsung kegiatan M-KRPL di desa tersebut. Semoga dapat inspirasi yang bermanfaat agar lebih sukses dalam mengembangkan M-KRPL di Kabupaten Bero.

 


JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL

SDM Profesional

Peneliti Madya
Bambang Prayudi, Dr. menyelesaikan pendidikan S1 pada jurusan Fitopatologi UGM Yogyakarta pada tahun 1978 menyelesaikan Strata tiga (S3) Jurusan Fitopatologi UGM Yogyakarta pada tahun 1988.
Joomla Templates by JoomlaVision.com