Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Publikasi BPTP Jateng



Banner4
banner2
PHSL IRRI
katam
MKRPL
Banner5
Banner3

Kalender Kegiatan

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari Ini126
mod_vvisit_counterMinggu Ini2569
mod_vvisit_counterBulan Ini9720
mod_vvisit_counterSemua994589

Pengunjung saat ini

Terdapat 9 Tamu online
2009
 

PROGRAM RINTISAN DAN AKSELERASI PEMASYARAKATAN INOVASI TEKNOLOGI PERTANIAN (PRIMA TANI) KABUPATEN WONOGIRI PDF Cetak E-mail
Oleh Samijan...(et al)   
Selasa, 14 Desember 2010 13:59
Samijan, et. al

Dalam perkembangannya selama 2 tahun (2007-2008), beberapa inovasi teknologi pertanian (tanaman, ternak, pupuk organik, industri rumah tangga untuk pengolahan hasil pertanian) yang diperkenalkan Prima Tani telah banyak diadopsi dan mulai dikembangkan oleh petani secara mandiri, kelompok dan gabungan kelompok. Gabungan kelompok tani (Gapoktan) juga telah mulai mengembangkan beberapa usaha produktif seperti perbenihan padi dan jagung varitas unggul baru, pengadaan sarana produksi pertanian, dan produk-produk olahan dari hasil industri rumah tangga kelompok wanita tani (KWT). Dalam upaya menumbuhkan dan mengembangkan usaha agribisnis pedesaan di lokasi Prima Tani, ditemukan adanya masalah utama yang dihadapi oleh gapoktan yaitu tingkat kepercayaan pada kemampuan sendiri dan keberanian untuk berspekulasi dalam usaha agribisnis yang masih relatif rendah. Oleh karena itu telah dilakukan pendampingan kelompok maupun gabungan kelompok dalam memberdayakan kemampuan internalnya dalam rangka pengembangan usaha agribisnis pedesaan. Kegiatan Prima Tani pada tahun ke-3 bertujuan untuk mendampingi gapoktan dalam rangka (1) meningkatkan kapasitas dan fungsi kelembagaan kelompok kearah pengembangan usaha agribisnis industrial pedesaan secara mandiri, (2) mengoperasionalkan Klinik Agribisnis, (3) memantapkan dan mengembangkan lembaga keuangan mikro, (4) mengembangkan usaha agribisnis pedesaan (tanaman, ternak, pupuk organik, industri rumah tangga, dan usaha produktif lainnya), dan (5) menerapkan, mengembangkan dan mensosialisasikan inovasi teknologi pertanian dalam skala yang lebih luas. Beberapa manfaat yang diharapkan dapat diambil dari kegiatan ini antara lain (1) meningkatnya daya saing petani dan kelompok tani dalam mengembangkan usaha agribisnis industrial pedesaan, (2) bembangnya dinamika kelompok dalam mengembangkan usaha agribisnis pedesaan yang berbasis pada perkembangan informasi dan inovasi teknologi pertanian terkini, (3) meningkatnya pertumbuhan dan perkembangan usaha-usaha agribisnis pedesaan, dan (4) meningkatnya pendapatan masyarakat (petani) melalui peningkatan produktivitas dan efisiensi usahatani. Hasil kegiatan pendampingan menunjukkan bahwa (1) kemampuan kelompok tani dalam mengelola dan mengembangkan usaha agribisnis masih belum bisa berjalan secara optimal dan mandiri, (2) pembangunan klinik agribisnis sudah berhasil direalisasikan, akan tetapi pemanfaatannya belum bisa berjalan secara optimal, (3) lembaga keuangan mikro (LKM) telah mampu mengembangkan permodalan sebesar 20,76% atau menjadi Rp. 120.765.000,- dengan keuntungan bersih sebesar Rp. 7.101.000,- dalam kurun waktu setahun, (4) beberapa usaha agribisnis yang masih berjalan antara lain pengelolaan ternak sapi, kambing dan domba; produksi padi untuk benih dan konsumsi menggunakan VUB Mekongga, produksi jagung, cabai rawit dan kacang tanah; pembuatan krupuk jagung, pengadaan sarana produksi pertanian dan perkreditan, (5) penerapan dan pengembangan inovasi teknologi pertanian masih tetap berjalan, namun hanya sebagian dari inovasi teknologi yang diintroduksikan, (6) usaha agribisnis yang sudah dirintis melalui kegiatan Prima Tani cenderung belum stabil dan bahkan menurun, (7) permasalahanan pemasaran merupakan kunci terpenting bagi keberlanjutan dan pengembangan usaha agribisnis, dan (8) terdapatnya beberapa permasalahan non teknis terkait dengan pengembangan usaha agribisnis industrial pedesaan antara lain karena lemahnya semangat petani dalam mengembangkan usaha bersama; rendahnya jiwa berbisnis pada sebagian besar petani (wanita tani); masih terbukanya peluang usaha diluar sektor pertanian dengan resiko lebih ringan; sebagian pengurus kelompok telah memiliki usaha pribadi dengan tingkat keuntungan yang lebih menjanjikan; serta dukungan pemerintah setempat dalam menjembatani promosi dan pemasaran hasil pertanian dan olahan masih sangat rendah. Beberapa implikasi kebijakan yang dapat ditarik dari hasil kegiatan pendampingan pada tahun ke-3 antara lain bahwa (1) penumbuhan dan peningkatan kemandirian kelompok dalam mengelola dan mengembangkan usaha agribisnis industrial pedesaan idealnya harus dibarengi dengan pengawalan dan pendampingan yang intensif dari berbagai dinas terkait termasuk para mitra investor dan pemasaran, (2) pemanfaatan klinik agribisnis harus diimbangi dengan pengadaan beberapa sarana dan sumber informasi inovasi teknologi yang terkini dan berlanjut (up to date) serta penciptaan aktivitas usahatani dan kelompok yang terkait keberadaan klinik, (3) diperlukan inovasi dan kreativitas lembaga keuangan mikro untuk dapat lebih mengembangkan dana permodalan dalam waktu yang lebih cepat, (4) diperlukan peningkatan wawasan bagi kelompok tentang strategi mengelola bisnis dalam kelompok tani, (5) diperlukan evaluasi dan penyiapan yang lebih matang terhadap inovasi-inovasi teknologi pertanian kedepan, yang memiliki nilai ungkit nyata terhadap perubahan produksi dan pendapatan petani, dan (6) diperlukan sinergisme program dan kegiatan antar dinas teknis serta dukungan kebijakan dari pemerintah daerah dalam satu kawasan terpadu untuk menumbuhkembangkan usaha agribisnis pedesaan yang berdaya saing tinggi. Sebagai tindak lanjut dari beberapa implikasi kebijakan tersebut di atas telah dirumuskan beberapa rekomendasi, antara lain (1) pengembangan usaha agribisnis industrial pedesaan yang telah dirintis melalui program Prima Tani selama 3 tahun perlu dilanjutkan oleh pemerintah kabupaten untuk mendapatkan model replikasi yang lebih jelas dan sempurna, (2) perlu dilakukan pendampingan dan pengawalan yang lebih intensif dari Dinas Pertanian; Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi untuk meningkatkan kapasitas kelembagaan, membina unit usaha agribisnis yang sudah ada, serta menjembatani dengan mitra dan investor dalam kaitannya dengan pemasaran hasil, (3) dinas, lembaga, swasta dan Gapoktan harus saling aktif dan kreatif dalam penyampaian dan pengaksesan sumber-sumber informasi terkini tentang inovasi teknologi pertanian dan perkembangan usaha-usaha agribisnis prospektif, (4) pengurus Gapoktan bersama-sama dengan perangkat desa dan petugas penyuluh pertanian harus kreatif dalam menciptakan kegiatan kelompok yang sekaligus dapat menghidupkan fungsi Klinik Agribisnis, (5) lembaga keuangan mikro perlu mempertimbangkan kemungkinan meningkatkan permodalan dari sumber dana lain, memperluas jenis usaha dan wilayah yang akan diberikan kredit permodalan, serta memilih dan memprioritaskan jenis usaha yang dapat mendatangkan keuntungan lebih baik, (6) gapoktan perlu belajar lebih banyak tentang sistem berbisnis dalam kelompok, baik kepada Gapoktan lain yang telah berhasil maupun kepada kelompok-kelompok usaha produktif swasta yang bergerak dibidang agribisnis, (7) Badan Litbang Pertanian perlu lebih menyiapkan dan mengevaluasi terhadap inovasi-inovasi teknologi yang telah dihasilkan guna mendapatkan inovasi teknologi pertanian yang lebih mantap di masa mendatang, dan (8) pemerintah daerah harus memberikan dukungan kebijakan yang jelas dan kongkrit melalui sinergisme program dan kegiatan antar dinas teknis dalam satu kawasan terpadu untuk menumbuhkembangkan usaha agribisnis pedesaan yang berdaya saing tinggi.
 
PROGRAM RINTISAN DAN AKSELERASI PEMASYARAKATAN INOVASI TEKNOLOGI PERTANIAN (PRIMA TANI) KABUPATEN TEMANGGUNG PDF Cetak E-mail
Oleh Isnani Herianti...(et al)   
Selasa, 14 Desember 2010 13:58
Isnani Herianti, et.al

Komoditas kelengkeng sebagai komoditas unggulan terpilih dalam pengembangannya terdapat beberapa masalah serius antara lain sistem kelembagaan ijon menyebabkan petani enggan untuk memelihara. Permintaan kayu kelengkeng dari Korea menggiurkan petani sehingga memilih menebang ketimbang memelihara dengan alasan keuntungan yang diperoleh tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan. Beberapa tawaran inovasi teknologi kurang direspon. Penanaman bibit hasil sambung pucuk telah dilakukan sebagai upaya untuk peremajaan, menambah populasi serta mengembalikan kepemilikan petani dari sistem ijon sekaligus sebagai upaya pelestarian salah satu sumberdaya plasma nutfah kelengkeng. Jumlah populasi domba introduksi pada kegiatan ) sebanyak 313 ekor mengalami peningkatan sebesar sebesar 62,68% menjadi 509 ekor. Namun demikian kematian anak masih cukup tinggi yakni sebesar 23,4%, sementara kematian induk sebesar 16,0%. Sementara selang beranak yang semula 12 – 14 bulan menjadi 8 – 9 bulan (rata – rata 8,3 bulan). Demikian juga penerapan inovasi teknologi penggemukan, dengan menerapkan perbaikan formula pakan (penambahan konsentrat, pemberian pakan sesuai kebutuhan dsb) mempunyai PBBH antara 81,7 – 82,5 g/hari. Meski lebih rendah ketimbang tahun lalu (107,3 g/hari) namun tetap menunjukkan beda bermakna dengan pemeliharaan secara tradisional (28,6 g/hari). Pemasyarakatan budidaya tanaman pangan secara tumpangsari yang dilakukan dalam upaya pemanfaatan lahan dibawah tegakan, mendapat respon yang positif dari petani. Kondisi ini tercemin dari permintaan pendampingan dan semangat mereka dalam melaksanakan kegiatan. Kegiatan percontohan dilaksanakan di Dusun Medono, dengan padi gogo varietas Situ bagendit dan Situ patenggang dengan produktivitas masing – masing 2,3 t/ha dan 3,0 t/ha. Percontohan budidaya padi sawah dengan penerapan PTT di Dusun Krajan terbukti mampu meningkatkan produktivitas dari semula IR-64 sebesar 5 – 5,5 t/ha menjadi 7,5 – 8,5 t/ha. Diversifikasi usaha yang dikembangkan KWT dibidang pengolahan hasil pertanian mampu memberikan penghasilan tambahan bagi keluarga tani. Hasil analisa usaha pembuatan aneka keripik mempunyai nila R/C > 1. Pendampingan terhadap usaha pengolahan hasil telah berhasil meningkatkan produktivitas usaha dengan nilai ekonomi sebesar Rp. 22.040.000/tahun. Dalam upaya meningkatkan kemampuan kapasitas SDM untuk mendukung kelembagaan AIP dilakukan berbagai kegiatan antara lain pelatihan pembuatan pakan cadangan untuk domba, perawatan kesehatan hewan serta upaya pengendalian enyakit tanaman, studi banding untuk membuka wawasan petani. Laboratorium agribisnis yang telah dirintis, secara spesifik akan dikelola secara mandiri oleh Gapoktan dengan mengacu pada Rancang bangun sebagai pedoman kerja. Melihat kondisi yang ada hingga saat ini diukur dari keberfungsian masing – masing elemen kelembagaannya, beberapa masih belum berjalan sesuai harapan. Demikian juga dari keterkaitan antar elemen, antara lain dari sisi pemasaran masih berjalan sendiri – sendiri dan belum terkoordinasi dengan baik meski upaya kearah itu sudah terlihat.
 
PROGRAM RINTISAN DAN AKSELERASI PEMASYARAKATAN INOVASI TEKNOLOGI PERTANIAN (PRIMA TANI) KABUPATEN TEGAL PDF Cetak E-mail
Oleh Tri Reni Prastuti...(et al)   
Selasa, 14 Desember 2010 13:57
Tri Reni Prastuti, et.al

Program Rintisan dan Akselerasi Pemasyarakan Inovasi Teknologi Pertanian (PRIMA TANI) Lahan Kering Dataran Tinggi Beriklim Basah di Kabupaten Tegal dilaksanakan di Kabupaten Tegal. Tujuan Prima Tani tahun 2009 (1) Memantapkan model usaha tani terpadu berbasis ternak kambing dalam Laboratorium Agribisnis (2) Memantapkan sistem usaha budidaya tanaman hortikultura ( sayuran dan tanaman hias) dan tanaman jagung serta pasca panennya (3) Melakukan diversifikasi usaha komoditas penunjang pada laboratorium Agribisnis (4) Melakukan pembinaan kelompok usaha dan pengembangan SDM dalam rangka mendorong terbentuknya kelembagaan Agribisnis Industrial Pedesaan (AIP) (5) Mengoperasionalkan Klinik Agribisnis Prima Tani Materi dan Metodologi , (1) Ruang lingkup kegiatan tahun 2009 meliputi : (a) Pengembangan Kapasitas Sumberdaya (b) Inisiasi pengembangan kelembagaan (c) Penyempurnaan model teknologi usaha tani ternak sapi (d) Penyempurnaan/pemantapan model usahatani terpadu (e)Penyempurnaan dan pengembangan model usahatani budidaya sayuran dan tanaman hias (f) Penyempurnaan dan pengembangan model usahatani jagung (g) Oerasionalisasi Klinik Agribisnis (2) Inovasi Teknologi : Penerapan inovasi teknologi untuk komoditas yang diimplementasikan merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam pengembangan sistem agribisnis. Komoditas unggulan yang diprioritaskan perlu penanganan dari hasil PRA , pada kegiatan Prima Tani di Desa Kedawung terbagi menjadi 2 kelompok : (1) Komoditas unggulan prioritas yang berpotensi untuk menjadi pengungkit pendapatan petani : tanaman (jagung) dan ternak kambing ,sapi (2) Komoditas penunjang yang mampu memberikan tambahan pendapatan petani : tanaman sayuran dan tanaman hias Sedangkan inovasi kelembagaan (1) Kelembagaan Penyuluhan (2) Klinik Agribisnis (3) Kelembagaan Kelompok tani Hasil Dan Pembahasan pelaksanaan Prima Tani 2009 antara lain adalah sebagai berikut : Terealisasinya (1) usaha tani tanaman jagung dengan implementasi teknologi introduksi varietas unggul seperti Bisma, Sukmaraga, Srikandi Putih, dan Anoman 1) dengan pendekatan PTT, pada Musim Hujan 2007/2008 telah dikembangkan petani + 21 ha dan petani telah mulai melakukan usaha perbenihan pada tahun 2009 seluas 2 ha masing-masing 1 ha untuk varietas Bisma dan 1 Ha untuk varietas Anoman (2)usaha tani perbenihan wortel dengan implementasi teknologi penggunaan varietas unggul wortel Cisarua telah dikembangkan petani dan beberapa kelompok tani telah berhasil melaksanakan usaha perbenihan wortel Cisarua baik untuk konsumsi maupun untuk dipasarkan. (3) usaha tani ternak kambing PE integrasi dengan tanaman yaitu jumlah kondisi awal pejantan 7 ekor dan induk 56 ekor (introduksi Oktober 2007), adapun kondisi akhir sampai Desember 2009 jumlah akhir 219 ekor dengan rincian pejantan 6 ekor, induk 50 ekor dan anak 163 ekor, Pada tahun 2009 juga mendapat bantuan terkan kambing PE 24 Ekor dan 3 unit kandang komunal (4) Usaha ternak sapi belum dapat dilaporkan karena introduksi sapi 15 ekor dan kandang komunal dari dana APBD baru terealisasi akhir Desember 2008,dari 15 ekor pada tahun 2009 baru bunting 13 ekor, sedangkan pada tahun 2009 juga dapat bantuan dari Pusat sebanyak 20 ekor dan baru terealisasai bulan Desember (5) pengelolaan limbah kotoran kambing dengan pemberian orgadec menjadi kompos telah mulai mendapat pasar, (6) kegiatan penunjang usaha tani pengelolaan produk olahan yang dikelola Kelompok Wanita Tani “Mekar Sari” sudah mendapatkan pasaran dan telah menjalin kemitraan dengan outlet berkah dan Swalayan Matahari Pekalongan dan rata produksi setiap bulannya pada tahun 2009 adalah + 483 Kg, dengan pendapatan per bulan sebesar Rp. 12.081.818,- Produksi kerupuk jagung tersebut menunjukkan peningkatan sebesar 190 %bdbanding tahun 2008 produksi rata-rata 254 kg/bulan dengan pendapatan rata-rata Rp. 6.347.917 ) Berbagai pelatihan juga telah dilakukan baik latihan di desa maupun mengirim pelatihan ke luar (latihan produk olahan pisang di Banjarnegara). Keberadaan Prima Tani Desa Kedawung telah dirasakan manfaatnya bagi masyarakat pedesaan, baik dalam lingkungan desa maupun di luar desa. Selain dapat meningkatkan pendapatan bagi pelakunya secara langsung, kegiatan Prima Tani juga dapat memberikan manfaat tidak langsung, misalnya pengolahan keripik jagung dan pengolahan limbah ternak. Beberapa pengguna yang telah memanfatkan keberadaan Kegiatan Prima Tani antara lain : (1) Sebagai wahana KKN, pada tahun 2007 sampai 2009 dipergunakan untuk KKN dari IPB dengan jumlah setiap tahunnya 10 orang, sebagai tempat magang, sebagai tempat pelatihan petani, penyuluh pertanian lapang. Pada tahun 2009 disamping sebagai tempat pelatihan dan magang petani juga digunakan sebagai arena pelatihan para penyuluh pertanian lapang dan THL pertanian sejumlah 100 orang. Pada tahun 2009 juga digunakan sebagai tempat studi banding, tamu yang datang studi banding antara lain dari Pemda Kabupaten Boro Provinsi Kabupaten Kaltim, Pemda Kabupaten Jepara, dan Prima Tani dari Kabupaten Wonogiri, Penyuluh Dan KID dari Lombok Timur NTB, KWT dari desa Pedeslohor, Kecamatan Jatibarang , Kabupaten Brebes. Selain hal tersebut pada 1 Pebruari 2009 telah dikunjungi Menteri Pertanian RI Dr. Anton Apriyanto dan rombongan, melihat secara langsung kegiatan Prima Tani di Desa Kedawung. Kegiatan Prima Tani di Desa Kedawung, Kecamatan Bojong, Kabupaten Tegal untuk tahun 2009 telah dapat dilaksanakan berdasarkan rencana, dengan menyesuaikan realisasi pendanaan dan kondisi lapang. Pelaksanaan Prima Tani di Kabupaten Tegal melibatkan berbagai pemangku kepentingan (stakeholder) yang terkait dengan pembangunan pertanian, baik di tingkat pusat, provinsi, kabupaten, kecamatan, desa dan masyarakat di lokasi kegiatan. Prima Tani di Desa Kedawung mempunyai dua macam manfaat, yaitu (a). Manfaat langsung berupa peningkatan pendapatan yang secara langsung diterima petani/pelaku usaha pertanian, dan (b) manfaat tidak langsung, berupa dampak positif akibat adanya kegiatan-kegiatan dalam Prima Tani. Prima Tani di Desa Kedawung tahun 2009, telah diserahkan kepda Pemerintah daerah Kabupaten Tegal, agar pada tahun-tahun selanjutnya mendapatkan pembinaan dan pendampingan.
 
PROGRAM RINTISAN DAN AKSELERASI PEMASYARAKATAN INOVASI TEKNOLOGI PERTANIAN (PRIMA TANI) KABUPATEN SUKOHARJO PDF Cetak E-mail
Oleh Tota Suhendrata...(et al)   
Selasa, 14 Desember 2010 13:56
Tota Suhendata, et.al

1. Prima Tani adalah suatu bentuk kegiatan rintisan guna mempercepat adopsi inovasi teknologi dan membangun kelembagaan agribisnis pedesaan secara partisipatif. Selain itu Prima Tani dipandang mampu menjadi wadah kerjasama yang sinergis antar kegiatan ekonomi dalam kerangka sistem agribisnis dan keterpaduan antar subsektor, sehingga diharapkan (i) sumber daya dan dana Departemen Pertanian dapat dimanfaatkan secara efisien dan efektif, (ii) keterpaduan pelaksanaan pembangunan antar subsektor dan antar pelaku dapat ditingkatkan. Tujuan utama dari program Prima Tani adalah untuk meningkatkan kesejahteraan petani, pertanian berkelanjutan dan melestarikan lingkungan. Keluaran akhir Prima Tani adalah terbentuknya Sistem Usahatani Intensifikasi dan Diversifikasi (SUID) dan sistem Agribisnis Industrian Pedesaan (AIP). 2. Prima Tani dilaksanakan dengan empat strategi, yaitu (i) menerapkan teknologi inovatif tepat guna secara partisipatif, (ii) membangun model percontohan sistem agribisnis berbasis teknologi inovatif yang mengintegrasikan sistem inovasi dan kelembagaan dengan sistem agribisnis, (iii) mendorong proses difusi dan replikasi model percontohan teknologi inovatif melalui ekspose dan demontrasi lapang, diseminasi informasi, advokasi serta fasilitasi, dan (iv) mengembangkan agroindustri pedesaan berdasarkan karakteristik wilayah agroekosistem dan kondisi sosial ekonomi setempat. 3. Berdasarkan hasil PRA, maka diintroduksikan sistem integrasi padi – sapi potong bebas limbah (SIPT-BL) sistem kandang komunal yang dikaitkan dengan penerapan pengelolaan tanaman terpadu (PTT) padi sawah irigasi pada tahun 2007. Inovasi teknologi yang diintroduksikan meliputi (a) budidaya padi dengan memperkenalkan varietas unggul baru Mekongga, Cigeulis, Cibogo, Conde, Sunggal, Cisantana dan Pepe bersamaan penerapan pendekatan PTT padi sawah, (b) penggemukan sapi potong, (c) pengolahan limbah padi dan ternak sapi. Sedangkan inovasi kelembagaan meliputi revitalisasi gapoktan, kelompok tani, pendirian kelompok SIPT-BL, klinik agribisnis, perbenihan padi dan pemberdayaan petani. 4. Implementasi inovasi teknologi dan kelembagaan dilakukan secara partisipatif dengan pendekatan kelompok tani. Menumbuhkembangkan kelembagaan agribisnis dilakukan secara bertahap dari satu kelompok tani ke kelompok tani lainnya. 5. Hasil implementasi inovasi teknologi dan kelembagaan di lokasi Prima Tani Lahan Sawah Intensif Desa Palur, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo (Prima Tani Kabupaten Sukoharjo) sampai dengan tahun 2009 sebagai berikut: a. Sistem integrasi padi – ternak sapi bebas limbah (SIPT-BL) yang diintroduksikan di Desa Palur, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo tahun 2007 berjalan cukup baik dan merupakan salah satu bentuk Sistem Usahatani Intensifikasi Diversifikasi (SUID) keluarga/ rumah tangga petani. b. Pada saat ini kelompok SIPT-BL sudah mampu melaksanakan kegiatan budidaya padi dengan pendekatan PTT, budidaya penggemukan sapi, pengolahan jerami fermentasi dan pembuatan pupuk organik padat dengan baik dan menggunakan jerami fermentasi untuk pakan sapi dan pupuk organik untuk pemupukan lahan sawah. c. Keberadaan klinik agribisnis cukup efektif baik dalam mendukung pemberdayaan dan pengembangan BPP Model maupun memberikan jasa konsultasi dan informasi inovasi teknologi pertanian melalui kegiatan perpustakaan dan demplot percontohan. Hal ini terlihat dari jumlah pengunjung dan peminjam media informasi inovasi teknologi dari perpustakaan klinik agribisnis meningkat masing-masing 56,30% dan 56,52% dibandingkan tahun 2008. d. Terbentuk kelembagaan perbenihan padi yaitu PB. Sari Benih Mulya sebagai produsen yang dirintis sejak pertengahan tahun 2007 dan sejak awal tahun 2009 sudah mendapatkan izin untuk memproduksi benih secara mandiri. Model usaha perbenihan yang diterapkan adalah model penangkar (petani) – produsen (PB. Sari Benih Mulya). e. Kinerja model SIPT-BL yang dikaitkan dengan penerapan PTT padi sawah irigasi dapat meningkatkan berat badan sapi menjadi 0,65–0,70 kg/ekor/hari, menghasilkan pupuk organik ± 63 ton dan menyerap ± 60 ton jerami untuk pemeliharaan 20 ekor sapi selama 22 bulan dan meningkatkan produktivitas padi rata-rata 0,76 – 0,88 t/ha atau terjadi kenikan produktivitas 13,98%. f. Berkembangnya penggunaan padi VUB bersamaan dengan penerapan PTT padi sawah, diiriringi dengan berkembangnya alat mesin pertanian (alsintan) pada periode 2006 – 2008 seperti traktor tangan dari 10 buah pada tahun 2006 menjadi 17 buah pada tahun 2009, power thresher dari 5 buah pada tahun 2006 menjadi 7 buah pada tahun 2009 dll. g. Berkembangnya populasi ternak sapi di Desa Palur dari 150 ekor pada tahun 2006 menjadi 259 ekor pada tahun 2009. Perkembangan yang sangat nyata terjadi pada kelompok tani Marsudi Kromo Boga dari 35 ekor pada tahun 2006 menjadi 162 ekor pada tahun 2009. Kenaikan jumlah sapi dibarengi dengan kenaikan peternak dari 5 orang pada tahun 2006 menjadi 55 orang pada tahun 2009. h. Berkembangnya SIPT-BL yang dikaitkan dengan penerapan PTT padi sawah irigasi akan memberikan peluang baru bagi simpul-simpul agribisnis jika dikelola secara professional, karena akan muncul bisnis atau usaha baru dalam pelayanan jasa, seperti pengolahan, pengangkutan jerami padi sebagai pakan ternak, pupuk organik dll, sehingga sektor pertanian akan memberi peluang untuk menyerap tenaga kerja yang lebih banyak. i. Kinerja perbenihan padi VUB (BPTP Jawa Tengah – PB. Sari Benih Mulya) periode 2007 – 2009 telah memproduksi benih padi VUB kelas SS sebanyak 130,9 ton terdiri dari varietas Conde 28,69%, Mekongga 22,61%, Pepe 21,01%, Cibogo 12,71%, Cigeulis 9,88%, Cisantana 3,54% dan Sunggal 2,10%. 6. Implikasi Kebijakan Pemeliharaan sapi dengan model SIPT-BL yang dikaitkan dengan penerapan PTT padi sawah mampu meningkatkan produktivitas padi, daging sapi, kualitas lingkungan dan tanah sawah, dan pendapatan petani, sehingga model tersebut dapat menjadi salah satu alternatif dalam pencapaian swasembada beras dan daging sapi maupun untuk mendukung upaya menuju pertanian ramah lingkungan. 7. Rekomendasi Untuk mendukung upaya menuju pertanian ramah lingkungan (Revolusi Hijau Tahap II), maka model SIPT-BL dan PTT padi sawah irigasi perlu dikembangkan. Pada saat ini keberadaan populasi sapi di Desa Palur tidak sebanding dengan luas lahan sawah yang mencapai 200 ha, populasi sapi baru berjumlah 259 ekor. Jumlah pupuk organik yang dihasilkan dari kotoran sapi tidak mencukupi untuk pemupukan lahan sawah. Pemeliharaan sapi dengan model SIPT-BL yang dikaitkan dengan penerapan PTT padi sawah irigasi diperlukan pupuk kandang sekitar 6 t/ha/tahun untuk 3 kali musim tanam, maka diperlukan memelihara sapi sebanyak 4 ekor/ha/tahun (satu ekor sapi dapat menghasilkan pupuk organik sekitar 1,5 – 1,8 t/tahun). Untuk memenuhi kebutuhan pupuk organik tersebut, maka dapat dikembangkan/dipelihara sekitar 800 ekor sapi per tahun. .
 
PROGRAM RINTISAN DAN AKSELERASI PEMASYARAKATAN INOVASI TEKNOLOGI PERTANIAN (PRIMA TANI) KABUPATEN SEMARANG PDF Cetak E-mail
Oleh Trie Joko Paryono...(et al)   
Selasa, 14 Desember 2010 13:55
Trie Joko Paryono, et.al

Program Rintisan dan Akselerasi Pemasyarakatan Inovasi Teknologi Pertanian (PRIMA TANI) Lahan Kering Dataran Tinggi Beriklim Basah di Kabupaten Semarang dilaksanakan di Desa Candi, Kecamatan Bandungan. Pada tahun 2009 kegiatannya meliputi; (1) Sosialisasi hasil kegiatan 2008 dan rencana kegiatan 2009, (2) Implementasi inovasi teknologi dan kelembagaan, meliputi: Pengembangan model usahatani terpadu berbasis ternak, pendampingan perbaikan teknik budidaya tanaman hias, pendampingan introduksi budidaya tanaman stroberi, pendampingan pengembangan usaha pengolahan hasil pertanian, pemantapan Rintisan Klinik Agribisnis, pembinaan sumberdaya manusia. Tujuan kegiatan ini yaitu (a) Memantapkan model unit agribisnis pedesaan dengan basis usaha ternak (sapi & domba) dan hortikultura berwawasan agrowisata di Desa Candi, (b) Memantapkan dan mengembangkan unit usaha pengolahan hasil pertanian pendukung agrowisata, (c) Memantapkan dan mengembangkan kelembagaan agribisnis dan Klinik Agribisnis Prima Tani di Desa Candi, dan (d) Mengalihkan model pengembangan unit agribisnis pedesaan dengan basis usaha ternak dan hortikultura berwawasan agrowisata di lahan kering dataran tinggi beriklim basah di Desa Candi kepada para pemangku kepentingan. Keluaran yang Diharapkan yaitu (a) Terbangunnya model unit agribisnis pedesaan dengan basis usaha ternak (sapi & domba) dan didukung hortikultura berwawasan agrowisata di Desa Candi, (b) Berkembangnya unit usaha pengolahan hasil pertanian pendukung agrowisata, (c) Berkembangnya kelembagaan agribisnis dan Klinik Agribisnis Prima Tani di Desa Candi dalam pengembangan unit agribisnis perdesaan, dan (d) Teralihkannya model pengembangan unit agribisnis perdesaan dengan basis usaha ternak dan hortikultura berwawasan agrowisata di Desa Candi kepada para pemangku kepentingan. Keragaan hasil pelaksanaan kegiatan antara lain adalah sebagai berikut : 1. Sosialisasi hasil kegiatan 2008 dan rencana kegiatan 2009. Kegiatan telah dilaksanakan di Balai Desa Candi diikuti oleh Dinas teknis lingkup pertanian Kab. Semarang, Penyuluh Pertanian Kec. Bandungan, Perangkat Desa, tokoh masyarakat, dan pengurus Gapoktan. 2. Pemantapan model usahatani terpadu perbibitan ternak sapi • Kegiatannya meliputi 3 unit perbibitan ternak sapi dalam kandang komunal, dikelola oleh Kelompok Tani “Barokah” 10 ekor mulai 2007, “Sumber Rejeki” 10 ekor mulai 2008, dan “Agung Rejeki” 5 ekor mulai 2009. Pada saat laporan disusun, jumlah anak sapi di masing-masing kelompok secara berurutan yaitu 15 ekor, 1 ekor, dan 1 ekor. • Inovasi teknologi berupa pengelolaan pakan, fermentasi jerami, dan pengelolaan kotoran untuk pupuk organik dilakukan melalui pelatihan dan praktek. Bahan biodecomposer yang digunakan yaitu OrgaDec. • Inovasi teknologi pengelolaan biogas: sampai akhir tahun 2009 diwujudkan dalam 2 skala usaha, yaitu (a) digester biogas ukuran besar dibangun di 2 kandang komunal, dikelola oleh kelompok, dan (b) digester biogas ukuran kecil (skala rumah tangga dibangun 3 unit, dan swadaya 1 unit. Kinerja biogas cukup baik, yaitu yang berukuran besar dapat menghemat biaya bahan bakar sampai Rp 512.000/bulan,-, dan yang skala rumah tangga dapat mengemat biaya bahan bakar Rp 80.000,- s/d. Rp 312.000,-/bulan. Hasil analisis usahatani perbibitan sapi terpadu diperoleh rasio Total pendapatan (R)/Total Biaya (C) atau R/C 1,64. 3. Pemantapan usaha perbibitan domba Inovasi teknologi berupa 2 unit perbibitan domba sistem 8 ekor betina : 1 ekor jantan, kandang panggung, dan manajemen pakan dimulai Desember 2008. Pada saat laporan disusun, jumlah anak hidup keseluruhan adalah 20 ekor, dan anak mati pada saat lahir 13 ekor. Hasil analisis usahatani diperoleh R/C = 1,20. 4. Pemantapan perbibitan tanaman hias anggrek dan kultur jaringan Kegiatan perbibitan anggrek aktif dilakukan oleh 4 orang wanita tani. Kegiatan yang dirintis sejak Juni 2007 pada saat ini telah membuahkan hasil. Bedasarkan analisis usahatani budidaya anggrek diperoleh R/C = 1,77. Untuk kegiatan kultur jaringan yang telah dihasilkan yaitu (a) Planlet bibit anggrek 78 botol, media sebar biji 58 botol, dan lain-lain. 5. Pemantapan budidaya bunga potong (mawar potong, gladiol, dan krisan mendapat respon tinggi dari petani. Hasil analisis usahatani mawar potong diperoleh R/C =1,61, gladiol R/C = 1,62, dan krisan R/C = 1,34. 6. Pendampingan budidaya stroberi. Perbaikan teknologi budidaya stroberi baru dilakukan pada 15 Desember 2009, sehingga hasilnya belum dapat dilaporkan. 7. Pengolahan hasil diarahkan pada perbaikan kemasan dan diversifikasi produk olahan. Usaha pengolahan ternyata cukup menguntungkan. Dari catatan selama satu tahun, salah seorang pelaku usaha pengolahan bia memperoleh keuntugan rata-rata Rp 898.375,-/bulan, dengan modal operasional Rp 1.744.667,- dan pendapaan Rp 2.643.042,-. 8. Pemantapan Klinik Agribisnis Prima Tani Kegiatan yang telah dilakukan yaitu memberikan advokasi teknologi pertanian bagi pengunjung klinik, pelatihan perbibitan mawar, pembuatan pupuk organik, dan fermentasi jerami. 9. Pembinaan dan pengembangan SDM dan kelembagaan tani Kegiatan yang dilakukan tahun 2009 meliputi pertemuan kelompok, studi banding pengelolaan PUAP bagi pengurus Gapoktan, studi banding tentang kelembagaan dan budidaya krisan. Pengembangan kelembagaan tani diarahkan untuk memperkuat kerjasama kelompok dan panguatan Gabungan Kelompok Tani “Prima Lestari” sebagai pengelola PUAP. Pada akhir Desember 2009 pemupukan modal PUAP telah mencapai Rp 218.000.000.-. Keberadaan Prima Tani Desa Candi telah dirasakan manfaatnya bagi masyarakat perdesaan, baik di dalam lingkungan Desa Candi maupun di luar Desa Candi. Selain dapat meningkatkan pendapatan bagi pelakunya secara langsung, kegiatan Prima Tani juga dapat memberikan manfaat tidak langsung. Misalnya, pengolahan hasil pertanian ceriping ubi jalar dan talas, wortel instan dan seledri instan memberikan manfaat langsung berupa peningkatan pendapatan. Sementara itu pengelolaan biogas selain dapat menghemat biaya penggunaan bahan bakar, dalam skala besar dan jangka panjang dapat memberikan dampak positif (1) mendukung program penghijauan dan kelestarian lingkungan, (2) lingkungan rumah menjadi lebih bersih dan sehat, (3) dalam jangka panjang mendukung program penghematan energi bahan bakar minyak, (4) menyediakan wahana pembelajaran nyata dan murah bagi masyarakat, (5) lingkungan pemukiman menjadi lebih bersih, sehat, dan tidak tercemar bau kotoran ternak. Prima Tani juga telah dijadikan sebagai wahana belajar bagi masyarakat pertanian. Beberapa pengguna yang telah memanfaatkan keberadaan kegiatan Prima Tani antara lain (1) sebagai wahana praktek lapang bagi mahasiswa, (2) wahana magang/studi banding bagi kontaktani/petani, dan obyek kunjungan lapang bagi pengguna lain. Pelaksanaan kegiatan Prima Tani di Desa Candi telah melibatkan berbagai pemangku kepentingan (stakeholder) yang terkait dengan pembangunan pertanian, baik di tingkat pusat, provinsi, kabupaten, kecamatan, desa, dan masyarakat di lokasi kegiatan. Pendampingan Prima Tani di Desa Candi berakhir pada tahun 2009, bimbingan selanjutnya diharapkan oleh pihak terkait di Kabupaten Semarang.
 


JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL

Artikel Singkat Terkini

Formulasi Pestisida Nabati

Trend peningkatan kesadaran perlindungan tanaman saat ini memunculkan penggunaan pestisida nabati. Fungsi pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) yang terbuat dari bahan dasar tumbuhan ini bukan [ ... ]


Kue Kuping Gajah Ubi Jalar

article thumbnail

Ubi jalar menjadi sumber karbohidrat non beras tertinggi ketiga di dunia setelah jagung dan ubi kayu. Kandungan b-karoten, vitamin, niasin, riboflavin, thiamin, dan mineral yang tinggi menjadikan ubi  [ ... ]


Other Articles
Joomla Templates by JoomlaVision.com